Pages

  • HOME
  • CONTACT ME

m o r f

  • Home
  • #Explore
    • Bandung
    • Bogor
    • Banten
    • Sukabumi
  • Video Blog
    • Bali
    • Bandung
    • Bogor
      • Curug Ciherang
      • Danau Jayamix
      • Curug Leuwi Hejo-Lieuk
    • Kuningan
      • Mudik 2017
  • About me
  • Mega menu
  • Download

Perjalanan dimulai saat acara buka bersama teman SMP, di salah satu tempat makan di Pondok Cabe.
Ngobrol-ngobrol dari menjelang maghrib, sampai akhirnya cukup kenyang, tercetuslah rencana untuk liburan di tengah tahun 2018 ini. Maklum, tahun kedua di perkuliahan ini bisa dibilang tahun yang amat berat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana masih bisa senang-senang sebagai maba. Banyak-banget pilihan tempat yang menjadi daftar buat liburan kali ini, namun singkat cerita diputuskanlah rencana itu ke Ranca Upas, Ciwidey, Bandung!

Jumat, 13 Juli 2018

Pukul 21.00 kita berkumpul di rumah Rizva, karena rencana akan berangkat jam 3 dini hari dari Jakarta. Biar gak ada yang ngaret, katanya.
Seperti yang sudah diduga, kita baru berangkat jam 5, setelah shalat Shubuh. Tapi gapapa, matahari belum muncul, waktu kita gak sedikit-sedikit amat.

Kita pun berangkat!
Berkutat dengan kemacetan di daerah Karawang dan Cikarang Utama, akhirnya kita sampai Bandung dengan keluar TOL melalui gerbang Kopo/Soreang. Jam sebelas siang alias ENAM jam kita baru sampai Kopo. Perjalanan belum selesai, Ciwidey itu masih +/- 1,5 jam dari Kopo, jadi kita langsung lanjutin perjalanan sebelum sore-sore banget. Gak ada macet yang berarti, lamanya perjalanan murni karena jarak aja. #ciegitu

Sampai Ciwidey kita mampir di Kawah Putih dulu, bukan untuk berwisata, cuma foto-foto, numpang shalat dan cari makan aja. #mahasiswa







Pukul 15.30

Karena sudah terlalu sore dan takut keburu gelap, kita pun langsung masuk ke kawasan Ranca Upas. Cuma berjarak 5 menit aja kok dari Kawah Putih, sebrang-sebrangan doang. 

Mungkin kalian masih berandai-andai, sebenarnya Ranca Upas ini tempat apa dan bisa ngapain aja, sih?



Menurut gua ini lokasi yang sangat pas untuk liburan yang alam-alam gitu, baik dengan keluarga maupun kawan sejawat. Mulai dari aktivitas memanah, berkuda, kemudian ada penangkaran rusa juga yang /instagram-able/ parah, terus ada kolam renang, coffee shop, dan yang pengen kita lakuin adalah....camping!

———

Oke, sebelum masuk tentang bagaimana pengalaman camping di sana, kita itung-itungan dulu nih mengenai biaya yang dikeluarkan.

Kita dari awal udah membuat daftar apa saja yang mau dibawa. Kemudian dibagi-bagi, barang mana saja yang bisa minjem #mahasiswa, yang bisa dibawa masing-masing dari rumah #masihmahasiswa, dan apa saja yang (dengan terpaksa) harus beli.
Mulai dari makanan, minuman, tenda, lampu senter, ya..semacam itu lah sama kayak list bawaan anak sd pas mau persami.😂

Pas ngumpul buat bagi-bagi tugas
Nah, bagian yang perlu dibeli ini nanti akan dibagi-bagi uangnya alias patungan. Ditambah juga dengan akomodasi yang akan digunakan; karena kita pakai mobil, maka perlu diperhatikan biaya bensin dan uang TOL yang akan dikeluarkan.
Total biaya yang ditanggung adalah 200rb per orang (dimana kita ada 8 orang).
Nominal itu sudah nutupin ticket masuk Ranca Upas juga, dimana totalnya adalah +/- 220ribu (8 ticket orang + mobil untuk menginap).

———


Lanjut.
Setelah bayar ticket di loket depan, kita pun masuk ke dalam sambil mencari spot camping yang asik. Asli, tempatnya luas banget dan ada banyak camping ground gitu, masing-masing lokasi pemandangan dan suasananya beda, tinggal pilih deh tuh mau yang kayak gimana!

Kita saat itu memilih lokasi di camping ground yang paling luas, dikelilingi bukit-bukit dengan rerumputan yang kuning kecoklatan. Moody abis suasananya.




Dengan semangat penuh kita langsung turunin barang dan mendirikan tenda di spot yang rada jauh dari kerumunan, karena kayaknya kurang enak aja gitu kalo terlalu berdekatan, kurang private.





Ohiya, di sini kita gak perlu takut soal air dan pertoiletan! Karena di setiap camping ground ada toiletnya masing-masing. Musholla pun ada dan nyaman banget. Juga ada warung yang buka 24 jam dimana mereka gak cuma jual makanan/minuman, tapi juga jual kayu bakar khusus untuk pengunjung yang mau bermalam di sini. Lengkap parah, sih.

Pukul 18.00

Hari sudah gelap, udara pun semakin mengusik kehangatan. Para ibu-ibu mulai memasak indomie (yang tentunya sudah kita bawa dari rumah) dan bapak-bapak alias yang cowok mencoba untuk menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri.

  













Setengah jam.

Satu jam.

Api belum kunjung merubah tumpukan kayu menjadi api unggun. Mungkin karena udara yang cukup dingin dan berembun menyebabkan kayu nya sedikit lembab? Itu hipotesis kita. Ditambah gerimis yang tiba-tiba datang, kita pun panik, apalagi mie belum tuntas semua dimasak. Udah sempet beres-beres untuk ngungsi aja ke tenda, eh 15 menit kemudian reda.

Lanjut deh tuh usaha menyalakan api, kemudian makan di bawah langit berbintang yang seringnya berawan. Tapi dinginnya udara sudah semakin menjadi-jadi. Motivasi untuk membuat api unggun pun menjadi bertambah.

Pukul 21.30

Pada akhirnya api unggun akhirnya berhasil dibikin.

(Setelah ratusan kali percobaan dan melihat tutorial di Youtube😂)

Tapi tetep, achievement unlocked: Membuat api unggun sendiri.

Padahal tadinya udah hampir nyerah karena iri liat tenda-tenda lain udah berhasil, sedangkan kita masih kedinginan-parah tanpa penghangat apapun. Malem itu emang gila, suhunya sampe 12•C. Beruntung kita berhasil bikin api unggun. Akhirnya kehangatan menyelimuti kita semua. #ciegitu




Setelah cukup hangat, satu persatu dari kita memilih untuk masuk ke tenda dan memulai tidur-cantiknya, termasuk gua-yang baru sadar belum istirahat sejak nyetir seharian dari Jakarta.

Masuk ke tenda, tidak semenyenangkan itu. Di dalam tenda tetep aja dingin. Tapi gua tetep harus tidur, bahaya karena besok harus nyetir lagi.

Tidak singkat cerita, malam itu sangaaatt panjang.
Setiap 1 jam sekali bangun, karena kedinginan. Yang lain udah pada masuk tenda dengan pakaian tebalnya masing-masing serta selimut di atasnya. Kami semua tidur dengan posisi yang sama; meringkuk kedinginan.
Asli, ga nyenyak pisan.

Pukul 02.00

Saat terbangun, ngecek hp. Masih jam 2 pagi. Gua ngerasa tidur udah lama banget, ternyata baru berapa jam. Gakuat parah dinginnya. Udah pake celana dobel, sarung (yang buat sholat), sarung tangan, sweater. Masih tembus itu udara.
Di saat yang bersamaan ternyata ada yang udah bangun juga, yaitu si Sultan yang lagi duduk sambil dipijetin, masuk angin ternyata.

Gak lama akhirnya dia nyerah dan memilih untuk tidur di mobil. Mobil yang diparkir di luar sana—di tengah dinginnya malam dan kabut tebal—mungkin 100 meter jaraknya dari tenda ke mobil. Tapi dia tetap memantapkan niat #ciegitu karena tentu di dalam mobil jauh lebih hangat dibanding di tenda.

Gua yang sebenarnya masih ngantuk pun mencoba untuk memejamkan mata kembali. Berharap saat bangun sudah bisa merasakan hangatnya sang mentari. #halah

Tapi semesta berkata lain, jam 03.30 gua terbangun lagi. Saat ini yang lain juga sudah bangun dan duduk ngobrol. Cuma Dini yang masih tiduran—tapi dia bangun, karena ikutan ngobrol juga. Gua pun ikut duduk dan ngobrol (alias mengeluh karena kedinginan wkwk). Ternyata kalau lagi ngobrol gini bikin hangat juga—yaaa setidaknya gak sedingin sebelumnya.

Pukul 04.30

Gak kerasa kita ngobrol sampai jam segini, senang karena dikit lagi matahari terbit. Gua, Daffa, dan Rizva pun memutuskan untuk keluar dan ke Musholla untuk shalat Shubuh. #pencitraan
Pas buka tenda tuh udara dari luar dingin banget coy jangan dikira, tapi kita tetep jalan dan melawan semua kedinginan yang ada. Halah.

Singkat cerita kita bertiga selesai dan kembali ke tenda sambil membawa kayu bakar yang dibeli di warung. Karena persediaan sudah habis semaleman. Gak lama api nyala kembali, kemudin matahari pun perlahan-lahan memunculkan diri. Sebuah penantian yang panjang, mungkin bukan hanya kami, tetapi juga para pengunjung yang lain kuga sudah menantikan kehadirannya. Asek.



Ini momen matahari terbit terindah yang pernah gua lihat. Meskipun berawan (tentu mataharinya tidak terlihat), tapi pemandangan di sini yang oke banget. Padang rumput berwarna kecokelatan dihinggapi kabut yang tebal serta dikeliling bukit hijau. Perfect!

Gak usah banyak berkata, langsung aja ini dilihat hasil hunting foto di pagi itu.

Sekalian gua akhiri aja nih ya cerita kali ini, lumayan berkesan sih karena ini diketik lewat HP selama perjalanan kereta api dari Jakarta ke Malang.
Nantikan juga cerita seru gue dan teman-teman di Malang, Jawa Timur. Ciao!


 


  



Eh iya ada tambahan, setelah kita pulang dari Ranca Upas kita ketemuan dulu sama Khalisa di Bandung Kota. Terus kulineran sama muter-muter Bandung, deh!





0
Share
Terkadang, menikmati perjalanan lebih precious dibanding tujuannya itu sendiri. Bukan karena tujuannya tidak istimewa, hanya saja perjalanan adalah momen yang tidak terjadi dua kali.



Berawal dari obrolan ringan di depan Agrimart, perjalanan ini pun direalisasikan. Pukul 00:30 am kita (red: sekumpulan divisi danship yang mendambakan sebuah upgrading) berangkat dari Cibanteng, Bogor. Perjalanan malam dipilih agar kita tidak bermalam disana, jadi sore/malamnya udah sampai di Bogor lagi. Jalur yang kita pilih adalah via Sukabumi, dimana kita harus ngelewatin kebun kelapa sawit yang gak ada penerangan, jalanan yang naik-turun bukit, ditambah sepinya jalanan saat dini hari. Kita cuma ketemu satu-dua mobil aja di jalan, selebihnya cuma kegelapan yang setia menemani.

Selama perjalanan kita hanya mengandalkan Google Maps, karena kita gak ada yang pernah dan tau jalan ke sana. Pengalaman unik pun dimulai.

Jadi sekitar jam setengah 4 dini hari, kita sedang di jalan besar, GPS mengarahkan kita supaya belok ke kiri. Saat diliat, jalannya sudah bukan jalan raya lagi, akan tetapi jalan kecil perkampungan gitu, dan lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Kita gambling deh, tuh, gue tetep batu supaya ngikutin GPS karena gue pikir GPS gak bakal salah, sedangkan temen gue yang lain pengin tetap ikutin jalan raya aja.

Pilihan bodoh gue pun dipilih, and it's totally zonk.

Semakin masuk, kita semakin yakin kalau pilihan ini adalah pilihan yang salah. Jalan yang semula aspal, perlahan menjadi jalan bebatuan. Awal-awal bebatuan halus, lama-lama menjadi batu-batu besar dan jalannya bergelombang.

....ya. Kita masuk ke hutan.

Tanpa rumah warga, tanpa ada lampu satu pun. Kita panik. Kita langsung play ngaji-ngajian di mobil. Gimana gak panik dan takut; kondisi dini hari, masuk hutan, mau minta pertolongan ke siapa coba? Mau puter balik, jalanan itu kecil dan sangat tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Fyi, GPS masih nyala dan menunjukkan jalan. Sadar karena gue yang bikin kekacauan ini, gue pun mencoba meyakinkan yang lain untuk tetap mengikuti jalur yang ditunjukkan GPS. Perlahan tapi pasti, kita menyusuri jalanan super-bergelombang itu. Setelah beberapa saat, ada seekor anjing yang menghadang di depan mobil.

Deg.

Mencoba untuk gak panik, kita tetap jalan. Setelah itu, rupanya anjing itu berbalik arah dan maju kayak menunjukkan jalan gitu. Tidak lama, kita pun bisa bernafas lega, karena akhirnya ketemu sama jalan raya lagi. Kita pun melanjutkan perjalanan ke sebuah destinasi yang sudah sangat ditunggu-tunggu.




Setelah kurang lebih empat setengah jam perjalanan, akhirnya kita sampai di tempat ini. Pantai Tanjung Lesung, secercah keindahan di balik bukit-bukit yang membatasi Bogor dengan Sukabumi. Sayangnya, kita gak dapet sunrise di sini, tapi pemandangannya tetap mengagumkan. Kabut yang masih menyelimuti sebagian pantai semakin menambah mood pada landscape-view ini. Alunan ombak yang datang beriringan menghasilkan eargasm dan berhasil membuat gue terlelap di pinggir pantai.

Achievment Unlocked: Menikmati alunan ombak sampai tertidur.

Sampai di post selanjutnya!
0
Share
Dokumentasi Pribadi

Tidak hanya angkotnya, Bogor juga terkenal dengan curugnya yang melimpah. Sebutan sebagai kota “seribu curug” pun sudah tidak asing lagi kita dengar. Bagaimana tidak, setiap sudut di Bogor pasti ada curug (air terjun). Uniknya lagi, lokasi curug yang satu dengan yang lain terkadang sangat berdekatan.  Sehingga bagi orang yang sangat senang dengan curug pasti betah deh, kalo disuruh tinggal di Bogor!

Nah, kali ini gua akan menceritakan perjalanan di awal Agustus kemarin bareng temen-temen SMP dan temen-temennya temen gue. 

Pusing, pusing, dah tuh bacanya. 

Awalnya kita bingung mau ke curug mana, karena pilihannya banyak banget dan bagus-bagus semua. Sampai hari H dan sudah ngumpul, kita masih belum tau tujuannya ke curug yang mana.

Akhirnya setelah cukup lama diskusi, kita pun memutuskan untuk ke Curug Leuwi Hejo. Ada dua alasan sebenarnya, pertama karena sudah ada yang pernah ke sana, jadi gak perlu cari-cari jalan lagi, dan yang kedua, di lokasi itu kita bisa dapet 3 curug sekaligus. Seru parah, kan.
ya biasa aja sih sebenernya.

Kita rame-rame naik motor, ber-duabelas, berangkat dari Gaplek sekitar jam 8 pagi. Perjalanan sekitar 2 jam untuk sampai ke lokasi. Nah, ini nih rute yang kita ambil:
·         Dari Gaplek lurus ke Parung
·         Lanjut ke Jl. KH Sholeh Iskandar
·         Lalu belok kiri ke arah Sirkuit Sentul
·         Ikuti jalan menuju Jungleland
·         Selanjutnya naik ambil jalan ke arahpemukiman warga, setelah 20 menit kita pun sampai.

Curug Leuwi Hejo

Sesampainya di gerbang Curug Leuwi Hejo, kita diharuskan membayar tiket terlebih dahulu. Tiket yang harus dibayarkan adalah tiket masuk per orang, tiket parkir motor, lalu tiket kebersihan dan asuransi. Totalnya untuk 3 tiket tersebut adalah sekitar 30 ribu (CMIIW, agak lupa juga gue). Kemudian kita pun main air di curug Leuwi Hejo. Oiya, soal bilas-membilas, kalian gak perlu khawatir. Ada tempat bilas dan mandinya yang cukup nyaman, juga tersedia tempat penitipan barang berupa loker, dan yang terpenting ada warung untuk makan selepas basah-basahan (haha).


Bisa naik ke atas curugnya, loh.

Setelah asik main air di Leuwi Hejo, kita pun melanjutkan perjalanan ke arah Curug Leuwi Cepet dan Leuwi Lieuk. Seperti yang gue bilang di awal, di sini kita bisa dapet 3 curug sekaligus. Perjalanan ke Leuwi Cepet dan Lieuk cukup menantang, karena kita harus tracking dengan medan yang menanjak dan terjal. Total waktu yang dihabiskan sekitar 20-30 menit, tergantung berapa lama kalian istirahat (hehe).

Medan menanjak dan terjal
Di tengah perjalanan, kalian akan nemuin rumah pohon asem di puncak bukit yang sedang dilewati. Pemandangan dari sana lumayan nyegerin juga, sambil istirahat kita juga sempetin buat foto-foto. Dan ternyata, dari atas sana kita udah bisa mendengar arus air dari  salah satu curug yang akan kita kunjungi. Makin gak sabar deh tuh untuk cepet-cepet sampai!


Rumah pohon asem
Foto dulu, bosqu.

Nah, gak jauh dari rumah pohon, kalian akan ketemu sama ticket box selanjutnya.

Lah, kok ada lagi?!

Iya, sama! Kita juga berpikiran kayak gitu. Kita pikir setelah 3 tiket tadi, kita gak perlu bayar apa-apa lagi (haha). Ternyata di sana kita bayar tiket untuk masuk ke Leuwi Lieuk dan Cepet. Kalau gak salah 10 ribu per orang. Setelah itu perjalanannya sudah enak, karena medannya menurun. Tidak jauh dari ticket box, akan ada persimpangan antara Leuwi Lieuk dan Leuwi Cepet. Kita pun memutuskan untuk ke Leuwi Lieuk. Saat itu kita gak berpikiran untuk ke Leuwi Cepet, karena waktu sudah cukup sore, maka kayaknya hanya sempat mengunjungi satu curug aja.

Curug Leuwi Lieuk.

…and look at the lovely corner of the Jungle!

Saat melihat pemandangan curugnya, beh!
Sedikit berbeda dari Leuwi Hejo, curug ini tidak ada air yang jatuh dari atas, tapi gak tau kenapa indah banget dilihatnya. Aliran air berwarna hijau-bening, diapit oleh dinding tebing yang tinggi, serta pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Gue pribadi senangnya adalah arus di curug ini tuh hampir gak ada, tenang banget. Pokoknya berasa di kolam renang alami, deh. Kita pun lanjut basah-basahan di sini, lompat dari tebing, berenang-renang, foto-foto, seterusnya sampai benar-benar puas.


Airnya tenang, kayak kolam renang!

Ada tali bagi yang mau naik ke atas tebing untuk lompat


Oiya, untuk informasi aja, kedua curug yang gue ceritakan barusan kedalamannya lumayan dalem untuk orang dewasa. Kaki gue aja gak sampe (semakin ke tengah semakin dalam). Jadi kalau kalian tidak bisa berenang harus lebih hati-hati, terutama di Leuwi Hejo, karena arusnya cukup kencang.
Mungkin itu aja cerita singkat gue di Bogor ini, yang penasaran dan ingin tanya-tanya lebih lanjut bisa hubungin gue di “Contact Me” di atas blog ini ya.

Sampai di post selanjutnya!
0
Share




Photo source: http://biomedpub.org/

Bandung, ibu kota provinsi yang satu ini memang memiliki sesuatu yang special. Setiap sudutnya memiliki kisah masing-masing. Menggoreskan kesan yang mendalam terhadap pengunjungnya. Ya, itu yang gua rasain tentang kota ini.

Beberapa kali mengunjungi kota ‘kuliner’ ini gue selalu ditemani, entah dengan keluarga atau pun teman. Beberapa kali itu pula cinta gue terhadap kota ini gak pernah berkurang. Mungkin terkesan berlebihan, tapi memang itu yang bisa gue ungkapin mengenai kota ini. Mulai dari perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, pemandangan sepanjang perjalanan aja gue udah nikmatin banget. Gunung dan sawah di sisi kanan dan kiri, memanjakan mata yang lelah dengan layar laptop di kamar.

Tapi kala itu, selepas lebaran tahun 2016, gue mau mencoba sesuatu yang berbeda. Kebetulan saat itu bokap ada dinas ke Bandung, gue pun memutuskan untuk ikut dan memulai perjalanan YOLO gue disana. Perjalanan pun dimulai.

Jadi karena bokap itu lagi dinas, otomatis dia kerja dong dan mobil dibawa. Gue pun merencanakan perjalanan sendiri gua di kota ‘kreatif’ ini.  Rencana nya perjalanan hari pertama itu gua mau ke Masjid Raya Bandung, ya emang udah pernah sih, cuman pengen jalan-jalan aja gitu, karena dekat sana juga bisa langsung ke Jalan Braga. Hotel gua terletak di Jalan Soekarno-Hatta, which is lumayan jauh dari pusat kota Bandung. Gue pun memutuskan untuk pake Gojek kesananya.

kring.dapat supir!

Kemudian gua naik motornya, lalu memulai perjalanan. Jadi pada saat itu lagi nge-hype banget gitu kan permainan Pokemon Go. Nah, pas di perjalanan dengan Gojek ini gue memanfaatkan kesempatan untuk bermain Pokemon Go! Lumayan banget kan, sembari nunggu sampe ke tujuan, sembari nyari pokemon juga haha. Banyak pokemon yang belom gue punya, justru gue dapetin disini. Apalagi, abangnya sempat lewat jalan kecil gitu (kayak lewat desa-desa gitu), jadi gue dapet beberapa Pokemon langka disana. Lumayanlah ya. Setelah sekitar 30 menit di perjalanan, gue pun sampai di Masjid Raya Bandung.

Hari itu hari senin, tapi suasana di Masjid Raya tetap ramai kayak lagi liburan! Ya emang lagi libur lebaran, sih, bokap gue aja yang udah masuk sendiri haha. Banyak anak-anak kecil lagi main bareng keluarganya. Ada yang sedang lari-larian, main bola, pokoknya hepi-hepi, deh. Gue disana cuma lihat-lihat aja sebentar, dan menikmati kegembiraan anak-anak disana. Pokoknya suasananya adem, deh. Padahal itu matahari udah mulai terik, tapi mereka tetep ceria dan hati gue pun sejuk ngeliatnya. Asli ini mah, gak dilebih-lebihin.



Selanjutnya gue jalan kaki menyusuri Jalan Asia Afrika. Banyak pengunjung yang lalu-lalang disini. Terutama muda-mudi yang asik ber-swafoto di depan monumen ataupun gedung-gedung tua yang ada. Gua pun sempat duduk di tempat duduk yang tersedia. Ikut merasakan asiknya suasana kota yang terkenal dengan kesejukannya ini. Ada satu tempat yang sebetulnya ingin gua kunjungi, Gedung Konferensi Asia-Afrika, tapi sayang saat itu hari senin, maka—sama seperti di kota lain—museum tutup untuk satu hari penuh. Gagal deh untuk wisata sejarahnya. Akhirnya gue pun belok menuju Jalan Braga. Daerah yang sangat terkenal karena suasana nya kayak di Eropa, ditambah banyak café-café lucu yang bisa dikunjungi. 




Jauh menyusuri jalan yang unik ini, langkah gua terhenti di suatu Mall. Matahari sudah mulai naik, jadi gue pikir lebih baik gue masuk untuk ngadem sebentar. Tergolong sepi untuk ukuran sebuah Mall, karena ukurannya pun tidak terlalu besar. Tapi di lantai atas ternyata ada bioskop. Wah! Gue pun masuk dan lihat-lihat fim yang ada. Film yang sedang tayang tidak terlalu menarik sebenarnya, tapi gue kayak yang bingung gitu mau ngapain lagi, jadi yaudah gue nonton SENDIRI filmnya Raditya Dika. Iya, sendiri. Agak tengsin buat mesen tiket ke mbak-nya, tapi YOLO men. Toh ini bukan pertama kalinya gue nonton sendiri di bioskop. Yha.

Setelah cukup terhibur dengan film komedi, gue pun memutuskan untuk ngopi di salah satu café di sebrang Mall. Sambil buka-buka Path, ternyata ada teman gua yang sedang di Bandung juga. Akhirnya kita ngobrol dan sharing mau kemana aja. Terus yaudah, kita gak ketemu, karena mereka udah punya plan sendiri juga. Gue pun jalan ke ujung Jalan Braga, lalu duduk lagi di tempat duduk yang tersedia. Termenung menatapi persimpangan yang ada di depan mata, sambil meresapi suasana disana. Ya, hal yang gue suka dari traveling adalah saat lo bisa menarik nafas sedalam-dalamnya untuk bisa meresapi udara dan suasana daerah yang sedang gue kunjungin. 

Beberapa menit berlalu, gue memutuskan untuk balik lagi ke Masjid Raya. Disitu gue baru tau, bahwa menara masjid bisa kita naikin. Wah, seru abis. Tanpa pikir panjang gue pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung beli tiket yang cuma seharga 5000 rupiah, langsung antre untuk naik lift ke atas. Sampai atas, gue seneng parah. Bisa menatap penjuru Bandung dari ketinggian yang entah berapa, pokoknya tinggi banget! (19 lantai bukan sih kalau gak salah?)

Sudah puas menikmati pemandangan bukit dan gunung di sekeliling Bandung, gue pun memutuskan untuk turun ke bawah, dan kemudian kembali ke hotel.



Hari selanjutnya tetap sama. Gue pake Gojek untuk ke daerah Dipatiukur. Kali ini berangkat agak siang, karena tujuan gue hanya untuk makan di Bakso Boedjangan yang terkenal banget saat itu. Sama halnya dengan kemarin, gue masih mencari pokemon selama perjalanan, haha. Setelah makan gue ke toko Kartika Sari terdekat, karena ada titipan dari nyokap. Terus sekitar jam 4 gue balik karena langit udah mendung, dan gue bingung mau kemana. Maka daripada harus ujan-ujanan, mending langsung pesen Gojek dan kembali ke Hotel.


Yap, itu aja sih cerita singkat gue nge-YOLO di kota penuh cerita ini. Semoga kedepannya bisa nge-YOLO lagi dengan destinasi yang lebih seru!

Sampai di post selanjutnya!
0
Share
Older Posts Home

Visitors

free counters

Popular Posts

  • Berkelana di Ibu Kota Jawa Barat.
    Photo source: http://biomedpub.org/ Bandung, ibu kota provinsi yang satu ini memang memiliki sesuatu yang special. Setiap s...
  • Halo, Again!
    Photo by @officialtomj Kapan ya terakhir gua buka  blogger.com  dan ngecek keadaan blog ini? it's really been a loooooong time!...
  • Sekali Mendaki, Tiga Curug Terlampaui.
    Dokumentasi Pribadi Tidak hanya angkotnya, Bogor juga terkenal dengan curugnya yang melimpah. Sebutan sebagai kota “seribu curug” pun ...
  • Study Tour, JOGJA! :D part3
    Assalamu'alaikum wr.wb. Gak lama setelah itu waktu kita disana udah abis, so kita harus balik ke bus. Sekarang tujuan kit...
  • [Not Angka] Samsons - Tak Bisa Memiliki
    Assalamu'alaikum wr.wb Kini gua bakal nge share not angka. barang kali ada diantara kalian - kalian yang membutuhkannya :) [Not Ang...
  • Ada yang baru nihhh
    Hey kali ini gua bakal curhat. Jadi sekarang ada yang baru di hidup gue karna yang lama telah hilang *uuuu* Bukan cewek atau apa loh ya...
  • Study Tour, JOGJA! :D part1.
    Udah lama gue ga ngepost di blog yang terbengkalai ini, akhirnya sekarang keinget dan gue mau nyeritain study tour gue sama sekolah gue be...
  • Membuat Dock Sederhana Untuk HPmu
    Oke, di minggu pagi ini gua bakal share tentang kreatifitas yang lumayan berguna juga nih.. Ya, kali ini gua bakal share 'Car...
  • Study Tour, JOGJA! :D part4 (last part)
    Heeellllooo :D Ini part 4 hari ketiga gue di Jogja, so ini part terakhir juga di posting gue ‘Study Tour, JOGJA! :D’ O...
  • Menyusuri "Dark Forest"
    Terkadang, menikmati perjalanan lebih precious  dibanding tujuannya itu sendiri. Bukan karena tujuannya tidak istimewa, hanya saja perjalan...

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  Aug (1)
      • Bertahan Diri di Selatan Bandung
  • ►  2017 (4)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (5)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Apr (2)
mrhayfa's. Powered by Blogger.
Copyright © 2015 m o r f

Created By ThemeXpose